Memetik faidah dari keislaman Mush’ab bin Umair -radhiallahu ‘anu-

  • Whatsapp
Ilustrasi keislaman

 

Alkisah ada seorang sahabat nabi Muhammad ﷺ , terkenal berasal dari keluarga ningrat nan kaya , hidup dalam penuh kecukupan dan kemapanan materi. Dia seorang keturunan salah satu kabilah besar qurays, yatu kabilah bani abdi dar. Ya… nama beliau  adalah Mush’ab bin Umair.

Walaupun kehidupan nya semasa sebelum islam sangat mewah , kalau bisa digambarkan, saat itu kebanyakan masyarakat arab hidup dalam kesederhanaan atau bahkan kekurangan, hal ini tidak terjadi terhadap sosok Mushab bin Umair di masa sebelum islamnya. Namun gemerlapnya kehidupan dan kemewahan yang memanjakan itu tidak sedikitpun mengakhirkan hidayah yang memang sudah ditakdirkan untuk Mush’ab bin Umair. Tidak lah terbit fajar islam, kecuali Mush’ab langsung menyongsong hidayah tersebut dengan segera.

Kehidupan baru Mush’ab dengan agama islam yang itu, tidak berjalan tanpa aral melintang. Walaupun berasal dari kabilah kuat dan terpandang, cobaan akan keislaman beliau tetaplah terjadi, alih aih gangguan itu datang dari orang luar, malah gangguan itu datang dari ibu beliau sendiri, namun beliau mush’ab tetap berdiri tegap di atas agama yang beliau cintai itu.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah keislaman sahabat mulia Mush’ab bin umair ini sebagai berikut:

  • Harta bukan tanda cinta dari Allah, melainkan dia adalah salah bentuk ujian dari Allah. Allah berfirman:

}إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ} [1]

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.

 

قَالَ رَسُول اللَّه ﷺ: لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّه جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْها شَرْبَةَ مَاءٍ رواه الترمذي، وَقالَ: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.

Rasulullah bersabda;” kalau seandainya dunia berharga di sisi Allah walau seharga sayap lalat , maka sungguh Allah tidak akan memberi minum seorag kafir walau hanya seteguk air.

Dari ayat dan hadis di atas, kita bisa memahami bahwa dunia begitu tidak berharga di sisi Allah sampai hendak dijadikan ukuran keridhoan Nya, namun Allah menjelaskan fungsi dunia, yaitu hanya sebagian alat test bagi kita , apakah kita hamba yang baik atau tidak. Baik bila kita mau meninggalkan dunia untuk akhirat, buruk kalau kita tinggalkan akhirat untuk terlena di dunia ini.

 

  • Jangan biarkan harta dan kelapangan hidup menghalangi kita dari hidayah Allah

}رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ} [2]

“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),”

Ulama tafsir berkomentar bahwa Allah memuji hamba hambaNya yang selalu mendahulukan urusan akhirat dari pada dunia. Maka hal apakah yang lebih harus kita dahulukan dari pada menyongsong hidayah islam.

 

  • Jangan biarkan diri kita menunda perbuatan baik, di kisah mushab barusan, kita tahu bahwa Mushab berubah bukan karena sedang dalam kesempitan, hingga ia harus cepat cepat beralih jalan (bahkan barusan kita mengetahui bahwa beliau dari keluarga kaya) , melainkan dia menjawab seruan hidayah yang selaras dengan fitrahnya dan dia memilih untuk tidak hanyut dengan arus kehidupan orang masa itu yang notabene penuh dengan kesyirikan dan kemaksiatan. Allah berfirman:

}وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ } [3]

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”

  • Lapangnya posisi kita sekarang atau merasa nikmat akan cara hidup kita, tidak menjamin kita sudah berada di atas jalan yang benar, maka sering seringlah muhasabah diri.

 

عن الحسن قال: “لا تلقى المؤمن إلا يحاسب نفسه: وماذا أردت تعملين؟ وماذا أردت تأكلين؟ وماذا أردت تشربين؟. والفاجر يمضى قدما قدما لا يحاسب نفسه”[4]

Diriwayatkan dari hasan (al bashri) beliau pernah berkata tidaklah engakau menemui seorang mukmin kecuali dia selalu bermuhasabah dengan dirinya; “ Dan apakah yang engkau ingin lakukan ? dan apa yang hendak engkau makan? Dan apa yang hendak engakau minum? Adapun orang fajir (bejat) berlalu saja tanpa pernah bermuhasabah dengan dirinya.

Allah berfirman :

وَإِنَّهُمۡ لَيَصُدُّونَهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ[5]

“Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”

  • Meninggalakan dunia , harta dan martabat demi memperjuangkan kebenaran yang diyakini adalah perwujudan dari harga keimanan kita yang harus kita tanggung. Allah berfirman:

}أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ} [6]

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Jadi orang yang beriman, tidak cukup hanya pengakuan namun perlu pembuktian apakah iman seseorang itu asli atau palsu. Nah dari proses ujian dan cobaan inilah akan terpisah antara keimanan yang asli dengan keimanan yang hanya omong besar saja alias palsu.

  • Setiap orang pasti ada cobaanya, hanya bentuknya saja yang mungkin berbeda, maka belajar dan selalu waspada adalah cara jitu untuk menapaki hidup di dunia ini. Allah berfirman:

} وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ} [7]

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”

Dalam ayat ini, Allah menggambarkan beberapa macam cobaan, kadang ada orang yang diuji dengan kelaparan atau kekurangan baik dalam masalah harta , atau jiwa, atau hasil panen, itu semua melambangkan akan bermacam macamnya ujian Allah tersebut, namun apa pun bentuk ujian tadi, hanyalah orang yang beriman saja lah yang bisa selamat karena mereka yang bersabar seraya mengharap ridho Allah.

  • Walau hidup dalam keadaan pas pas an, iman dan kecintaan kepada kepada Allah dan rasulNya lah yang membuat anda tetap nyaman dengan hidup ini, itulah manisnya iman.

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما

“Tiga hal yang bila mana ada dalam seorang hamba maka dia akan merasakan manisnya iman, (salah satunya) siapa yang mencintai Allah dan rasulnya lebih dari apapun…”

Maka tidak aneh kita melihat Mushab begitu nyaman dengan kehidupannya setelah menjadi muslim, dahulu yang hidupnya mewah dan penuh kecukupan dibandingkan keadaaanya saat menjadi muslim, (dengan makan dan pakaian sederhana) namun hal itu tidak manjadikan dia sengsara atau down, dia tetap bahagia. Itulah manisnya iman.

  • Cinta tidak buta, dan janganlah cinta membutakan, bagaimana manapun cinta seorang hamba pada ibunya yang notabene kita diperintahkan untuk berbakti kepadanya, tetap hal itu tidak boleh membuat kita memaksiati Allah. Allah , Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Adil berfirman:

{وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ } [8]

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Sekian, tafakkur sederhana yang bisa kita nikmati dari sepenggal kisah hidup sahabat mulia, Mushab bin Umair, sepotong cerita keislamannya.

Semoga Allah merahmati kita semua, dan semoga kita trus dikaruniai hidayah oleh-Nya.

[1] At taghobun 15

[2] An Nur 37

[3] Al Imron 133

[4] إغاثة اللهفان من مصايد الشيطان (1/ 78) ighotsatul al lahfan min mashoyidi as syaithon bab 1 hal. 78

[5] Az zukhruf 37

[6] Al Ankabut 2

[7] Al baqoroh 155

[8] Luqman 15