Ya Rabb, Aku jatuh cinta.

  • Whatsapp
Ilustrasi Jatuh Cinta

Part #4

Sebelumnya aku tak habis pikir, bagaimana sosok bertubuh tinggi besar seperti saya dan laki-laki lainnya, bisa begitu mudah luluh hanya karena seorang wanita. Bisa diserang panah asmara lalu didemamkan oleh cinta. Apakah hal ini sudah fitrah manusia, siapa pun dia dan dimana dia dilahirkan juga dibesarkan, pasti tidak akan terlepas dari cinta. Atau ini hanya panah iblis agar laki-laki terjatuh pada kumbangan maksiat, karena memang sarana yang banyak menjerumuskan kaum laki-laki pada perbuatan dosa adalah wanita. Jika itu memang benar, lalu apakah mereka yang tidak mengenal wanita bisa terjauh dari dosa dan perbuatan maksiat. Sepertinya tidak demikian, karena Allah yang telah menciptakan semua yang ada di jagad raya ini saling berpasang-pasangan. Allah juga yang telah menciptakan cinta dan rasa kasih sayang di hati setiap manusia itu sendiri. Adapun mereka yang tidak mengenal cinta dan menentang cinta itu sendiri, berarti dia sudah keluar dari fitrahnya.

Read More

Firman Allah tentang cinta dan sayang untuk seorang tersayang (yang artinya), “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran-Nya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk dirimu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (ar-Rum: 21)

Abu Naufal pernah ditanya, “Apakah seseorang itu bisa menghindar dari cinta?” Dia menjawab, “Bisa yaitu orang yang hatinya keras dan bodoh, yang tak memiliki keutamaan & pemahaman. Sekalipun seorang hanya memiliki sedikit kepandaian, kehalusan penduduk Hijaz dan kepintaran penduduk Iraq, tidak mungkin bisa menghindar dari cinta.”

Ali bin Abdah berkata, “Tidak mungkin seseorang bisa menghindari dari cinta, kecuali orang yang kasar peranginya kurang waras atau tidak mempunyai gairah.” Adapun Mereka berkata, “Seseorang itu tak akan menjadi sempurna, kecuali jika dia mencintai orang-orang yang memiliki kesempurnaan atau setidaknya menyerupai mereka.”

Seorang A’raby berkata, “Cinta adalah pendamping jiwa dan teman bicara akal dan membuat perasaan berbunga-bunga, mampu menguasai anggota badan.”

Tatkala tiba-tiba dia melihat kehadirannya…

Kedua kakinya gemetar limbung tiada daya…

Cinta itu mengusai dan menawan hati…

Menjaganya agar talinya tidak lepas terurai…

Cinta itu bersemi bukan karena keelokan…

Tapi karena dua hati yang saling bersahutan…

Seseorang berkata, “Cinta bagi ruh kedududukannya sama dengan makanan untuk badan. Jika engkau meninggalkannya, tentu akan membahayakan dirimu dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya, tentu dia akan membinasakan dirimu.” Abdullah bin Thahir, gubernur di Khurasan berkata kepada anak-anaknya, “Bercintalah agar kalian merasakan keindahan dan jagalah kehormatan kalian agar kalian terpandang.”

Seseorang melaporkan kepada seorang pemimpin, “Putramu telah menjalin cinta dg seorang wanita.” Lalu pemimpin tersebut menyahut, “Alhamdulillah, sekarang perasaannya menjadi halus, sanubarinya menjadi lembut, isyaratnya menjadi tajam, gerakannya menjadi tertata, ungkapan kata-kata menjadi indah, surat yang ditulisnya menjadi bagus, terbiasa dengan hal-hal yang manis dan menjauhi hal-hal yang buruk.” Sa’ad bin Aslam pernah dilapori seseorang, “Sesungguhnya anakmu suka merangkum syair-syair yang lembut (syair-syair cinta).” Maka Sa’ad bin Aslam menanggapi, “Biarkan saja dia mengasah perasaannya, tampil bersih dan menjadi lembut.”

Seorang raja memiliki putra semata wayang yang sama sekali tidak memiliki gairah, lemas dan minder. Padahal sang raja ingin mempersiapkannya menjadi penggantinya kelak demi memegang kekuasaan. Maka raja ini menyuruh beberapa gadis untuk bergaul dengan putranya. Akhirnya putra raja ini pun jatuh cinta kepada salah seorang gadis itu. Raja pun menjadi gembira setelah mendapat kabar tersebut, lalu dia mendatangi seorang gadis yang dicintai anaknya dan berkata kepadanya, “Katakan kepada putraku, ‘Saya hanya patut di persunting seorang raja atau seorang yang berilmu.” Dan tatkala putra raja mendengar apa yg dikatakan gadis yang dicintainya tersebut, maka dia pun menuntut ilmu hingga akhirnya dia benar-benar layak memegang kekuasaan.

Sebagian ahli balaghoh mensifati perasan cinta dengan mengatakan, “Cinta mampu mendorong seorang yg penakut menjadi pemberani, seorang yang kikir menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dungu, memfasihkan lidah orang yang gagap, membangkitkan keinginan orang yg lemah, merendahkan kehormatan para raja, menampakkan kehebatan para pemberani, merupakan pintu pertama yang membelah pikiran dan kecerdikan, karna hadirnya ada tipu daya halus, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadiannya menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari dalam jiwa dan kesenangan yang bersemayam di dalam hati.”[1] Setelah membaca semua kisah dan perkataan ini, saya baru sadar bahwa cinta itu terpuji jika jiwa ini memujinya dan akan tercela jika jiwa ini mencelanya.

Cinta akan terpuji jika diletakkan pada garis yang benar, sesuai yang disyari’atkan. Dan cinta akan tercela ketika diletakkan pada jalan yang terlarang & mengundang murka dan kebencian Allah Rabb Semesta Alam. Karena cinta yang sejati tidak akan mengundang kemurkaan Allah, Dzat yang menciptakan rasa cinta dan kasih sayang itu sendiri.

Setelah merenung lama dan membaca buku-buku karya para Ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, seperti al-Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Katsir, Imam al-Bukhori, Imam Muslim dan yang lainnya. Aku tersadar bahwa sebenarnya sosok Rasulullah adalah seorang yang sangat romantis dan puitis kepada seorang yang dicintainya, Aisyah. Hal itu tersadar ketika membaca hadits-hadits berikut ini.

Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Bagaimana bentuk kecintaanmu kepadaku?’ Rasulullah menjawab, “Seperti ikatan tali.’ Bagaimana ikatan tali tersebut? Lalu Rasulullah menjawab, “Seperti apa adanya.” (Diriwayatkan Abu Nu’aim, al-Hilyah)

Aisyah berkata, “Aku bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Rasulullah menjawab, “Kenapa engkau bertanya begitu?” Lalu Aisyah berkata, “Agar aku mencintai orang yang engkau cintai.” Rasulullah pun menjawab, Aisyah.” (Diriwayatkan at-Thabrani di al-Mu’jamul Kabir)

Bahkan kecintaan Rasulullah dan keromantisan beliau kepada Aisyah dibawa beliau sampai pada hembusan nafasnya yang terakhir. Seperti terekam dalam hadits berikut ini, Aisyah berkata bahwa Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai Aisyah, sungguh kematianku menjadi mudah bagiku ketika aku melihatmu sebagai kekasihku di Surga.” (at-Thabrani)

Dalam riwayat yang lainnya, Rasulullah brsabda, “Aku tidak peduli dengan kematian sejak aku mengetahui bahwa engkau adalah kekasihku, istriku di Surga.” (At-Thabrani) Dan dalam riwayat yang dibawa oleh al-Imam Ahmad dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh aku melihat Aisyah di Surga. Jika aku melihat telapak tangannya yang putih, itu  meringankan aku pada saat kematianku.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)

Aduhai, betapa romantisnya dan puitisnya sosok baginda Rasulullah karena cintanya yang begitu besar kepada sosok yang sangat-sangat beliau cintai dan sayangi. Betapa tidak membuat cemburu seseorang yang cintanya mulai layu, betapa tidak membuat orang lain merasa terhina karena cintanya yang telah sirna. Ternyata sosok Rasulullah adalah seorang pecinta yang sangat mencintai Aisyah, wanita yang sangat dicintainya. Sungguh, hati kecilku ini pun cemburu melihat betapa besar kecintaan dan kesetiaan Rasulullah kepada seorang wanita yang paling beliau sayang. Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Agar cinta di hatiku ini membawa kebahagiaan, agar kisah cintaku nanti seperti kisah cinta Rasulullah yg indah seperti mawar merah, mampu membuat sebuah sejarah yang penuh hikmah, menawan dan mendenyutkan cinta orang lain yang telah hilang. Apa yang harus aku lakukan Tuhan agar angan-anganku itu tidak hanya angan-angan namun benar-benar menjadi kenyataan.

 

Bersambung ke Part #5

[1] Semua kisah dan perkataan ini dinukilkan dari buku, “Taman orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.” Karya al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Darul Falah-Jakarta

Related posts