MUNGKIN INI KEBAKTIANKU

Ilustrasi berbakti

Apa yang akan kita ucapkan ketika Salafuna Shalih menunjukkan contoh terbaik mereka dalam berbakti kepada orang tua. Lisan mana yang akan berdusta, hati mana yang tidak luluh dibuatnya, ketika kebaktian mengalahkan semua kedudukan dan pernak-pernik dunia. Ya Ikhwah, mungkin kisah Salafuna Shalih ini dalam berbakti kepada orang tuanya, akan membuat kita semakin yakin bahwa berbakti kepada orang tua adalah kebanggaan bukan kehinaan. Kebaktian adalah bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, karena Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

 

‘Abdullah bin ‘Umar

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, dia berkata bahwa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhya sebaik-baiknya kebajikan adalah orang yang menyambung tali persahabatan dengan teman yang dicintai ayahnya.”[1]

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dari Ibnu Umar dalam sebuah perjalanan ada seorang Arab Badui melintas sedangkan ayahnya adalah teman dekat dari sahabat Umar ra (ayah Ibnu Umar), orang Badui itu berkata, “bukankah engkau anak dari si fulan?” Ibnu Umar menjawab, “Benar”. Lalu Ibnu Umar menyuruh Arab Badui ini untuk menaiki keledainya, yaitu disuruh menyertainya dalam perjalanan dan Ibnu Umar membuka sorbannya lalu diberikannya kepada Arab Badui itu. Orang yang menyertainya berkata, “Cukupkah jika harganya ini dua dirham?” Ibnu Umar menjawab, “sesungguhnya Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jagalah teman yang dicintai ayahmu dan janganlah engkau memutuskan hubungan, karena jika demikian niscaya Allah akan memadamkan cahaya-Nya untukmu.” [2]

‘Ali bin Husain

Dikatakan kepada Ali bin Husain ra, “Anda adalah orang yang paling berbakti kepada orang tua, tapi saya tidak pernah melihat anda makan satu piring dengan ibu anda .” Ali bin Husain menjawab, “Aku khawatir kalau uluran tanganku mendahului tangan beliau kepada yang sudah beliau lihat terlebih dahulu.”[3]

Abu Yazid al-Busthami

Abu Yazid al-Bustami bercerita, “ketika aku berusia 22 tahun, ibuku yang sedang sakit memintaku untuk merawatnya pada suatu malam. Aku segera menemuinya, tangan kiriku aku letakkan dibawah kepala beliau sedangkan tangan kananku memijat tubuh beliau sambil membaca surat al-ikhlas, sampai tanganku terasa lumpuh. Aku berkata dalam hatiku, “Tangan ini milikku, sedangkan hak ibuku hanya untuk Allah Ta’ala. Maka aku kuatkan diriku sampai pagi, dan setelah itu tanganku tidak bisa dipakai.”

Setelah Abu Yazid meninggal dunia, teman-temannya bermimpi bahwa ia terbang disurga sambil bertasbih. Ketika ia ditanya, “Apa yang membuatmu memperoleh rahmat yang begitu besar dari Allah?” Abu Yazid menjawab, “Berbakti kepada orang tua dan bersabar menghadapi penderitaannya.”[4]

Seorang Sahabat yang Berbakti

Seseorang berkata kepada Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam, “ya Rasulullah, ibuku sudah tua renta. Aku merawat dan melayaninya, aku menyuapinya makanan dan minuman, aku memakaikan pakaiannya dan memasangkan selimutnya. Apakah dengan itu aku telah memenuhi hak-haknya?”. Rasulullah  Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidak, kamu tidak akan bisa memenuhi haknya, meskipun kamu telah melakukan semua itu.” Seseorang tersebut bertanya, “mengapa demikian wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Karena ia telah melayanimu waktu kamu masih kecil dan berharap kamu hidup terus sampai tua. Sedangkan kamu melayaninya setelah ia tua dan terbetik dalam hatimu agar dia lekas tiada.”[5]

Seseorang  yang Menggendong Ibunya

Abdullah bin Umar ra melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya berthowaf mengelilingi ka’bah. Ibnu Umar bertanya kepada seseorang tersebut, “siapa dia?”. Dia menjawab, “Dia ibuku, apakah dengan ini aku sudah memenuhi haknya wahai Ibnu Umar?”. Ibnu Umar menjawab, “Demi Allah, meskipun kamu telah melakukan hal ini, tapi tidak akan sepadan dengan satu hentakan dan teriakan yang dilakukannya waktu melahirkanmu.”[6]

Abu Hurairah

Diriwayatkan dari Murrah (maula Abu Hurairah) bahwa Abu Hurairah pernah ditugaskan oleh Marwan saat Marwan berada di Dzul Hulaifah. Abu Hurairah tinggal disebuah rumah, sementara ibunya tinggal dirumah yang tak jauh dari rumahnya. Jika Abu Hurairah keluar, dia berdiri didepan pintu rumah ibunya, serasa berkata, “Semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah senantiasa tercurah untukmu wahai ibuku.” Kemudian ibunya menjawab, “Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu wahai anakku.”

Abu Hurairah berkata, “Semoga Allah memberikan rahmatNya kepadamu, sebagaimana engkau telah mendidikku diwaktu kecil dulu.” Kemudian ibu Abu Hurairah menjawab, “Semoga Allah memberikan rahmatNya kepadamu, sebagaimana engkau telah berbakti kepdaku setelah dewasa.” Demikianlah yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika ia hendak masuk ke dalam rumahnya.

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Abu Hazm bahwa Abu Murrah, budak Ummu Hani putri Abu Tholib, mengabarkan kepada Abu Hazm bahwa Abu Murrah pernah berkendara bersama Abu Hurairah menuju tanah aqiq. Saat Abu Hurairah memasuki kampung halamannya, dia berteriak dengan suara yang lantang. Dia berkata, “Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah tercurah kepadamu wahai ibuku.” Kemudian ibu Abu Hurairah menjawab, “semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah tercurah kepadamu wahai anakku.”

Kemudian Abu Hurairah berkata kembali, “Semoga Allah memberikan rahmatNya kepadamu, sebagaimana engkau telah mendidikku diwaktu aku masih kecil.” Ibu Abu Hurairah menjawab, “Semoga rahmatNya untukmu juga wahai anakku, semoga Allah memberikan balasan yang terbaik kepadamu serta meridhoimu, sebagaimana kau telah berbakti kepadaku setelah engkau dewasa.”

Diriwayatkan dari Gholib, dia berkata, “Muhammad bin Sirrin pernah berkata, “Pada suatu malam kami pernah berada didekat Abu Hurairah. Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, ibuku, dan orang-orang yang memohonkan ampun untuk keduanya.” Muhammad berkata kepadaku, “Marilah kita memohonkan ampun untuk Abu Hurairah dan ibunya, agar kita termasuk orang-orang yang berada dalam doa Abu Hurairah.”

Dalam kitab Birrul Waalidain karya Ibnu Jauzi[7] disebutkan bahwa Abu Umamah berkata, “Abu Hurairah biasa menggendong ibunya ketempat buang air setiap kali ibunya ingin buang hajat, lalu menurunkannya disana. Hal itu dilakukan oleh Abu Hurairah lantaran ibu Abu Hurairah adalah seorang wanita tua yang buta.”

Haritsah bin Nu’man

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “aku masuk kedalam surga, kemudian disana aku mendengar orang yang sedang membaca al-qur’an. Aku bertanya, “siapakah orang yang membaca al-qur’an itu?” para penghuni surga menjawab, “Haritsah bin Nu’man.” Rasulullah bersabda, “Demikianlah seharusnya kalian berbakti, demikianlah seharusnya kalian berbakti.”

Didalam kitab Birrul Walidain karya Ibnu Jauzi[8], disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Haritsah adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya.” Kemudian Aisyah berkata kembali, “Ada dua orang sahabat Rasulullah yang merupakan orang yang sangat berbakti kepada ibunya dikalangan umat ini, mereka berdua yaitu, “Utsman bin Affan dan Haritsah bin Nu’man.” Utsman bin Affan dia berkata, “Sejak aku masuk islam, aku tidak kuasa membayangkan jasa-jasa ibuku.” Adapun Haritsah bin Nu’man dia selalu mengelus kepala ibunya, menyuapi ibunya dengan tangannya, dan tidak pernah meminta penjelasan kepada ibunya tentang apa yang diperintahkan kepada dirinya, hingga ibunya meninggal duniapun  dia bertanya kepada orang-orang yang ada didekat ibunya, “Apa yang dikehendaki ibuku.”

[1] Hadits Riwayat Muslim.

[2] Syarah Riyadus Shalihin. Pensyarah Syaikh Salim bin I’ed al-Hilali. Pustaka Imam Asy-Syafi’I Jakarta.

[3]Dalilu As-Sailin; Ensiklopedi Dakwah.Anas Ismail Abu Daud, Pustaka Al-Qayyim

[4] Idem

[5] Idem

[6] Shahih al-Adabul Mufrad. No,9

[7] Aiman Mahmud, Kaifa Tabirru Walidaika. Pustaka Irsyad Baitus salam Bandung. Dan riwayat kisah Abu Hurairah ini sebagian diambil dari kitab lain.

[8]Idem