Ibumu, Nerakamu atau Syurgamu …

  • Whatsapp
Ilustrasi Ibu

Diriwayatkan dari Thaisalah bin Mayyas, dia berkata, “Dahulu aku termasuk salah seorang pasukan pengikut An Najdaat. Lalu aku melakukan dosa-dosa yang aku kira itu termasuk dosa-dosa besar, lalu aku menceritakannya pada Ibnu Umar. Kemudian dia bertanya, “Dosa apakah itu?” Aku menjawab, “Ini dan itu,” Lalu Ibnu Umar berkata, “itu bukan dosa-dosa besar, yang termasuk dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh jiwa, kabur dari perang, menuduh wanita terhormat, makan riba, makan harta anak yatim, berbuat keji di dalam masjid, suka mencemooh, durhaka pada orang tua sehingga membuat keduanya menangis.” Ibnu Umar berkata kepadanya, “Maukah engkau selamat dari neraka dan masuk surga?” Jawabku, “Demi Allah, tentu aku mau”Ia bertanya, apakah ayahmu masih hidup?” Jawabku, “Aku hanya punya seorang Ibu”, kemudian Ibnu Umar berkata, “Sungguh demi Allah, jika engkau berbicara lemah lembut kepadanya dan engkau memberinya makan niscaya engkau akan masuk Surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (Shahih, Al-Albani mencantumkan hadits ini dalam Silsilah Ahadist Ash-Shahihah 2898)

Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Karena mereka memiliki kedua orang tua, ayah dan ibu yang harus mereka berikan cinta dan kasih sayang, muamalah yang baik, berbakti dan semua perilaku yang menunjukan bentuk bakti kepada keduanya.

Perbuatan baik dan bakti seorang muslim kepada kedua orang tuanya, hendaknya lebih didahulukan dari berbuat baik kepada selain keduanya. Seperti berbuat baik kepada istri, anak-anak, kaum kerabat dekat maupun jauh, tetangga dekat dan tetangga jauh. Mengapa harus demikian?

Karena Allah Ta’aala yang memerintahkan dan jauh-jauh tahun sebelumnya ayah dan ibu telah berbuat baik kepada anak-anaknya dengan perbuatan baik yang paling baik semasa kecilnya hingga dia tumbuh dewasa. Bahkan keduanya lebih mendahulukan berbuat baik kepada anak-anaknya dari pada dirinya sendiri.

Bagi kedua orang tua, harta dunia yang masih menjadi harta simpanan yang paling berharga semasa keduanya hidup di dunia adalah anak-anak yang telah dibesarkannya dengan penuh pengorbanan tersebut. Dan yang paling dinantikan serta diharap-harapkan dari anak-anak yang telah dibesarkannya tersebut di masa tua mereka adalah cinta, kasih sayang, perhatian, kelemah lembutan dan seluruh perbuatan baik yang menunjukan kebaktian kepada keduanya.

Jika kedua orang tua mampu berbuat demikian, hendaknya anak–anaknya pun mampu berbuat demikian juga. Hendaknya mereka menjadikan orang tuanya sebagai sesuatu yang paling berharga bagi dirinya di dunia. Sebagai sesuatu yang hendaknya dijaga serta dirawat agar lebih berharga dan tidak usang.

Jika seorang anak merasa bahwa emas adalah harta dunia yang paling berharga yang pernah ada di dunia ini, maka hendaknya sang anak mengibaratkan kedua orang tuanya dengan sesuatu yang lebih berharga dari emas tersebut.

Jika ia merasa bahwa harta dunia ini adalah perhiasan yang paling berharga, maka hendaknya dia mengibaratkan kedua orang tuanya sebagai perhiasan paling indah yang senantiasa menghiasi dunia berserta isinya. Atau ibaratkanlah kedua orang tua dengan perhiasan dunia yang menurutnya lebih dan paling berharga dari semua perhiasan dunia yang ada di dunia ini. Apabila setiap anak mengerti bahwa orang tuanya adalah orang-orang yang sangat berharga bagi dirinya di dunia ini.

Maka tentunya mereka akan mengetahui tentang hahekat dari kewajibannya untuk senantiasa berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan mengetahui akan hakekat cinta dan kasih sayang yang sebenarnya dalam berbakti kepada kedua orang tuanya tersebut.

Kedua orang tua adalah sebab keberadaan dari terlahirnya manusia. Kedua orang tua adalah hamba-hamba Allah Ta’aala yang diberikan beban amanah yang berat kepadanya. Yaitu beban amanah berupa anak-anak yang memiliki hak untuk diberikan kepada mereka hak-haknya, seperti hak untuk dicintai, diberikan kasih sayang, nafkah kehidupan berupa makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan hak yang terpenting dari yang paling penting yang seharusnya diberikan oleh kedua orang tua kepada anak-anak tersebut adalah pendidikan agama yang benar, yang akan menjadi bekal mereka nantinya di masa depannya.

Pendidikan agama yang akan mengajarkan kepada mereka arti dan hakekat dari tujuan hidupnya. Mengetahui akan pentingnya berkasih sayang kepada sesama muslim, binatang, makhluk-makhluk ciptaan Allah. Dan tidak lupa juga adalah bahwa ilmu agama tersebut akan mengajarkan kepada mereka arti cinta kepada Allah Ta’aala, Rasulullah, shahabat, orang-orang sholih. Bahkan ilmu agama tersebut juga akan mengajarkan kepada mereka arti berbuat baik dan berbakti kepada ayah dan ibu, menghormati kakek dan nenek, paman dan bibi serta menghormati dan menyayangi kakak-kakak dan adek-adeknya.

Kedua orang tua Anda adalah sang pahlawan yang sangat tidak layak jika dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Yang tidak dikenang jasanya dan tidak dibalas jasa keduanya oleh anak-anaknya.

Kedua orang tua adalah sang pahlawan yang paling bertanggung jawab atas pasukan-pasukan yang dipimpinnya. Kedua orang tua adalah sebaik-baik pahlawan yang pernah ada bagi anak-anaknya di dunia ini. Kerena mereka telah memberikan pengorbanan yang pantas bagi pasukan yang dipimpinnya dan yang tidak pernah rela apabila pasukan yang dipimpinnya tersebut tidak mendapatkan rasa aman, kebahagiaan, kedamaian dan pendidikan yang benar darinya.

Ya benar. Sang pahlawan yang tidak layak jika dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa tersebut adalah kedua orang tua kita, ayah dan ibunda.

Sang pahlawan pertama yang tidak kalah penting untuk dikenang dan dibalas perjuangannya adalah ibu. Dia adalah sang pahlawan yang sangat berjasa dari hadirnya kita untuk melihat keindahan dunia ini. Ia ibaratkan seorang wanita lemah lagi ringkih yang telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya kepada kita, sang buah hati lagi perhiasan terindah yang pernah dia miliki semasa hidupnya.

Cobalah kita renungkan sejenak. Ia rela tidak tidur demi kenyamanan tidurmu wahai sang buah hatinya. Dia pun rela tidak makan dan minum demi kenyangnya perutmu wahai sang buah hatinya. Rela tidak berselimut di malam yang sangat dingin hanya demi terselimutinya tubuh mungilmu wahai sang buah hatinya. Bahkan Ibundamu rela menunggu berjam-jam di rumah sakit atau ketika dirimu berbaring menahan sakit, hanya demi mengetahui keadaan dirimu, makhluk kecil yang ia jadikan bagian dari hidup dan perhiasan dunianya.

Dan sang Ayah adalah sang pahlawan kedua. Dan ia adalah seseorang yang paling berjasa dalam hidup kita, karena ia telah memberikan seluruh jiwa, tenaga dan hartanya demi memberikan nafkah pada kita, buah hatinya, berupa kebutuhan lahiriah dan bathiniah.

Maka, ingatlah wahai wahai Anda sang paduka Raja. Bahwa sebenarnya sang pahlawan ksatria dalam kehidupan Anda di dunia ini adalah Ibunda dan Ayah Anda. Tentunya setelah Rasulullah dan para shahabatnya. Karena bagaimanapun keadaan dan keberhasilan Anda saat ini adalah hasil dari jerih payah penuh luka menganga kedua pahlawan ksatria Anda tersebut.

Bukankah Anda mengatahui bahwa seorang anak Adam tidak akan bisa hidup tanpa perjuangan keduanya, tidak akan ada tanpa adanya keduanya. Maka, hal terpenting dari yang paling penting yang seharusnya selalu diingat oleh setiap anak adalah bahwa pahlawan ksatria dalam hidupnya tersebut, harus dikenang, didoakan dan dibalas seluruh perjuangannya tanpa adanya sedikit pun keraguan.

Lihat dan kenanglah kembali pengorbanan dan perjuangan mereka berdua. Ayahmu telah berani banting tulang dari matahari akan bersinar hingga ia telah terbenam dipenghunjung siang demi memenuhi kebutuhanmu sebagai buah hatinya.

Ibundamu telah bercapek-capek ria, berletih-letih duka. Bahkan bermandikan keringat dahaga dari siang hari hingga malamnya hanya demi perhiasan dunianya mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan ketika berada disisi kedua orang yang mencintainya.

Dari kesemua sebab inilah, Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam berulang kali menyebutkan perintahNya dalam firmanNya kepada para hamba-Nya, ummat Rasul-Nya untuk senatiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua dan menjauhi segala bentuk perbuatan durhaka.

Allah Ta’aala berfirman (yang artinya), “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu (ibu-bapak) karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”  (An-Nisa’ : 36)

Diriwayatkan Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah didatangi oleh seseorang kemudian dia bertanya “Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?” Beliau menjawab, “Berbaktilah kepada ibumu” Kemudian dia bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, lalu beliau menjawab, “Berbaktilah pada ibumu.” dia kembali lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama, lalu beliau menjawab, “Berbaktilah kepada ibumu”, dia kembali bertanya untuk yang keempat kalinya dengan pertanyaan yang sama, lalu beliau menjawab, “Berbaktilah kepada ibumu.” Kemudian dia kembali lagi bertanya untuk pertanyaan yang kelima kalinya dengan pertanyaan yang sama, lalu Beliau menjawab, “Berbaktilah kepada Ayahmu….” (Hadits Riwayat Ahmad (2/402). Menurut Arna’ut hadits ini shohih dalam hadits-hadits Musnidnya)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Berbuat baiklah kepada mereka berdua dengan seluruh jenis kebaikan, baik dengan ucapan maupun  tindakan.” Ketika menafsirkan ayat, “Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua….” (QS. Al-Israa’ : 23)

 

Hasan al-Bashri berkata ketika ditanya tentang birrul walidain, Beliau berkata, “Berikanlah kepada keduanya (Ayah & Ibunda) apa yang kamu miliki, taatilah apa yang mereka perintahkan kecuali yang bersifat maksiat.”

 

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Barang siapa yang melakukan sholat lima waktu maka dia telah bersyukur kepada Allah dan barang siapa yang berdoa untuk kedua orang tuanya setelah selesai sholat maka dia telah berterima kasih kepada mereka.”

 

Imam Ahmad berkata, “Berbakti kepada kedua orang tua menghapuskan dosa-dosa besar.” Seorang Alim juga pernah berkata, “Jagalah kedua orang tuamu, niscaya anakmu akan menjagamu…”

 

Maka ingatlah wahai Anda, sang buah hatinya. Bahwa sesungguhnya Anda adalah sang buah hati, perhiasan dunia, penyembuh luka menganga, tanaman cinta dan harta yang paling berharga dalam hidup kedua orang tua Anda. Lalu, sudahkah Anda menjadikan kedua pahlawan ksatria Anda itu ibaratkan perhiasan yang paling indah dan paling berharga dalam hidup Anda?

 

Abu Hurairah dari Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi dan sungguh merugi, seseorang yang mendapati kedua orang tuanya, baik  salah  salah satu atau kedua-duanya pada saat lanjut usia, tetapi dia tidak masuk Surga.[1]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, “Seorang laki-laki datang dan berkata kepada Rasulullah, “Aku membaiat Anda untuk berhijrah dan berjihad semata-mata hanya berharap pahala dari Allah.” Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda kepada laki-laki tersebut, ”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?”. Laki-laki tersebut menjawab, “Masih, bahkan keduanya masih hidup.” Beliau bersabda, “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah?. Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya.”[2]

Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq dia bercerita, “Ibuku yang masih musyrik pada masa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah datang kepadaku, lalu aku meminta petunjuk kepada Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam seraya aku katakan, “Ibundaku datang dengan berharap agar aku bisa berhubungan baik dengannya, apakah aku boleh menyambung hubungan baik dengannya?”.Maka Beliau Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ya sambunglah hubungan dengan ibumu.”[3]

Maka renungkanlah. Semoga Allah Ta’aala tidak membekukan hati kita yang penuh luka dosa berdarah dan bernanah untuk merenungkannya.

………………………..

Disarikan dari buku; “Ummi, Izinkan Aku Menangis. Jika Air Matamu Terjatuh Karena Kedurhakaanku.” Karya: Abu Uyainah As-Sahaby. Penerbit Pustaka-Muslim, Jogjakarta.

[1] Hadits Riwayat Muslim (2551)

[2] Hadits Riwayat Muslim (2549) dari Ibnu Amr.

[3] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaihi. Al-Bukhori (V/233-fath) dan Muslim (1003) (50).