Betapa indahnya pacaran dalam islam

  • Whatsapp
Ilustrasi Pacaran

Part #6

Setelah gadis yang aku pinang menerima pinangan, mahar sudah aku siapkan, Ayah dan keluarganya siap menjadi wali dan saksi, lalu akad nikah pun terucapkan. Sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan yang akan terjadi setelah itu. Aku tak mampu menggambarkan sebuah keromantisan antar dua sepasang kekasih yang mengikat cintanya sesuai ajaran agama. Bisa dibayangkan bagaimana kebahagiaan itu mampu aku wujudkan bersama kekasihku yang aku sayang. Aku makan berdua dengannya dalam satu nampan, lalu saling menyuapkan makanan penuh keromantisan, berjalan pun berbarengan bahkan bergandengan tangan, duduk berdua di sebuah taman atau di tepi lautan pun tak ada lagi yang melarang, bahkan di atas roda dua pun masih sempat berucap, “Pegangan yang kuat ya sayang.” Aduhai betapa indahnya pacaran yang dilakukan setelah akad nikah itu terucapkan dan cinta yang dulu disembunyikan kini benar-benar dinyatakan.

Read More

Sungguh indahnya pacaran setelah akad nikah terucapkan, setelah penantian lelah & panjang berbuah keromantisan, setelah kesabaran demi menjaga harga diriku terbayarkan. Sungguh indah sebuah angan-angan jika Allah mengabulkan. Dan semoga kebahagiaan ini berlangsung lama meski tak aku pungkiri gelombang ombak cemburu dan tsunami dengki menghintai keberadaan cinta di hati kami berdua. Namun untuk menghadapi itu semua, ku sudah mempersiapkan sebuah tameng untuk menepisnya dan menahannya, hingga tsunami dengki dan gulungan ombak cemburu tak mampu menenggelamkan bahtera cintaku yang sudah susah payah penuh pengorbanan aku membuatnya. Dan tameng itu adalah sebuah doa yang Rasulullah ajarkan, sebagaimana sabda beliau, “Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita, maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘bismillah’ serta doakanlah dengan doa keberkahan dengan mengatakan;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabi’atnya yang dia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dia bawa.” (HR. Abu Dawud)

Jika semua ini sudah dilakukan dan lisan sudah mengucapkan, lalu hati mengimani penuh kepastian. Maka hanya menunggu dan menunggu kebahagiaan itu datang, tsunami dengki dan gulungan ombak cemburu ditenggelamkan dalam lautan, hingga meskipun ada kecemburun di hati kami ini, tidak lain adalah bumbu pelezat untuk semakin menikmatkan cinta kami berdua, tidak lain hanyalah lem perekat untuk semakin merekatkan hubungan kasih sayang antara kami berdua. Iya, itu lah kecemburuan yang kami harapkan, yang dia datang membawa pahala bukan membawa petaka. Kecemburuan yang menyelamatkan cinta dari kenestapaan, kecemburun yang mampu menyirami cinta yang mulai layu.

Sebagaimana makhluk-makhluk dunia ini memiliki pasangan, bahkan mereka saling memiliki satu dengan yang lain. Maka tidak bisa aku pungkiri bahwa keberadaan cemburu adalah pasangan untuk cinta itu sendiri. Ketika jiwa merasakan keberadaan cemburu, saat itulah tanda-tanda keberadaan cinta mulai diketahui. Tidak mungkin seseorang bisa merasa cemburu kepada seseorang melainkan ada kehadiran cinta yang mulai mengganggu. Tidak mungkin itu terjadi melainkan ia tak ingin seseorang yang sangat berharga baginya bersama dengan orang lain, meski ia mengenalnya atau tidak mengenalnya. Yang ada di pikirannya hanya dia tidak rela jika seseorang yang dicintainya bersama dengan orang lain.

So, jika ditemukan cemburu di dalam jiwa dan mulai merasakan cinta di hati tak lagi ada daya, serasa cinta telah layu, seperti bunga mawar yang tak disirami selama seminggu. Maka langkah yang tepat untuk menghidupkannya kembali adalah dengan duduk berdua, makan berdua, jalan-jalan saling bergandengan tangan, tidak peduli apa yang dikatakan orang, tidak peduli dengan musim panas atau hujan, yang penting cintanya mampu bersemi dan terselamatkan. Karena pacaran dalam Islam itu juga diajarkan ketika seorang yang kau cintai telah resmi engkau miliki dengan menikahinya sesuai ajaran agama Islam yang mulia. Sudah tidak ada lagi doa keburukan dari orang, ketika engkau dengan kekasihmu itu saling bergandengan tangan, ketika engkau dengannya saling berboncengan ingin ikuti kajian. Ya, semua itu sudah dihalalkan bahkan diajarkan oleh sang Nabi rupawan. Betapa indah kan pacaran dalam Islam, bukan hanya cinta yang bersemi, namun engkau pun diridhoi ilahi.

 

Bersambung ke Part #7

Related posts