Sunnah Talaqqi dalam Belajar

  • Whatsapp
Dokumentasi kegiatan belajar al-Quran di Markaz Huffadz Indonesia Tahun 2018

Sahabat al-Quran, diantara salah satu sunnah al-Quran al-Karim adalah belajarnya dengan cara talaqqi wal musyafahah ( ٱلتَّلَقِّيُّ وَٱلمُشَافَهَةُ ) yaitu bertemu dan belajar langsung dari pengucapan Sang Guru. Inilah cara belajar yang paling utama diantara wasilah-wasilah lainnya seperti melalui Televisi, Youtube, Buku, dll. Adapun melalui media-media tersebut hanyalah sebagai alternatif yang Allah mudahkan untuk kita, utamanya untuk pelosok-pelosok daerah yang belum ada guru al-Quran yang mumpuni.

Sunnah Talaqqi inilah yang dipraktekkan oleh para salafus shalih, orang-orang sebelum kita dalam kebaikan, baik para sahabat maupun ulama, seperti halnya yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud h,

Read More

وَٱللَّـٰهِ لَقَدْ أَخَذْتُ مِنْ فِيِّ رَسُولِ ٱللَّـٰهِ  بِضْعًا وَسَبْعِيْنَ سُوْرَة

“Saya telah menghafal dari pengucapan (mulut) Rasulullah (secara langsung) sebanyak 70 sekian surat”[1]

Yang menguatkan hal tersebut juga hadist Rasulullah g,

ٱسْتَقْرِئُوا ٱلقُرْآنَ مِن أرْبَعَةٍ: مِن عبدِ اللَّـٰهِ بنِ مَسْعُودٍ فَبَدَأَ به, وسَالِمٍ مَوْلَى أبِي حُذَيْفَةَ, وأُبَيِّ بنِ كَعْبٍ, ومُعَاذِ بنِ جَبَلٍ

“Mintalah bacaan (ambillah al-Quran) dari empat orang : Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah memulai dengannya, Salim budaknya Hudzaifah, Ubai bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal”[2]

Sahabat al-Quran, mengikuti orang sebelum kita dalam cara belajar al-Quran adalah sunnah yang harus kita ikuti pula dan tidak boleh ada perbedaan mushaf al-Quran yang menjadi imam kita, atau perbedaan qiraah (bacaan) yang sudah masyhur. Sehingga Abu Muzahim Musa bin Ubaidillah al-Khaqaniy (248-325 H) mengatakan,

وإِنَّ لَنَا أَخْذَ ٱلقِرَاءَةِ سُنَّةً *** عَنْ ٱلأَوَّلِينَ ٱلمُقْرِئِينَ ذَوِى ٱلسِّتْرِ

“Dan sesungguhnya (kewajiban) terhadap kami dalam mempelajari al-Quran merupakan sunnah para Muqri (ahli al-Quran) generasi awal yang dzawis sitri (tertutup, tidak mau terkenal, tawadhu’)”[3]

Dan berkata pula Abu Amru bin al-‘Ala’ r,

مَا قَرَأْتُ حَرْفًا إِلَّا بِأَثَرٍ وَسَمَاعٍ وَإِجْمَاعٍ مِنَ ٱلفُقَهَاءِ

“(Sugguh) aku tidak membaca (al-Quran) kecuali dengan Atsar (jejak/contoh), pendengaran dan Ijma’ (kesepatakan) para fuqaha (orang-orang faqih, berilmu)”[4]

Sahabat al-Quran, semoga kita semua bisa mengikuti semua jejak-jejak para pendahulu kita dalam kebaikan, insyaAllah.

Allahumma Aamin.

[1] HR. Bukhari dalam Kitabnya Shahih Bukhari, no 5000, hlm 896.

[2] HR. Muslim no 2464

[3] Mandzhumah Khaqaniyyah, bait ke-7

[4] Ahasinul Akhbar fii Mahaasini Sab’atil Akhyar, hlm 388.

Related posts