Resonansi Dalam Belajar Al Qur’an

  • Whatsapp

“MAU ATAU TIDAK?”

Kalimat itulah yang selalu kami tanyakan kepada setiap peserta pemula belajar tahsin al-Quran, baik usia belia maupun manula, iya m-a-n-u-l-a. Salah satu peserta didik kami usianya 78 tahun. Belajar tajwid? Tahsin tilawah al-Quran? Iya. Emang bisa?

Read More

Mau atau tidak? Jangan pesimis sebelum mencoba.

Jadi, Anda mau semangat atau tidak? Atau hanya ingin mencoba terus menyerah. Menyerah? Iya, kerap sekali dalam belajar tajwid menyerah di tengah jalan karena merasa tidak bisa-bisa, dengan satu alasan klasik “Faktor Usia”, “Ngga ada waktu”, “Udah susah, Ustadz”. Waah mulai nyari kambing hitam. Astaghfirullah.

Coba kita duduk sejenak, Na’im bin Hammad berkata: bahwa ada yang bertanya kepada Ibnul Mubarak, “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” Ibnul Mubarak menjawab, “Hingga wafat insya Allah”.[2]

Semua tergantung resonansi yang kita pantulkan dari dalam jiwa-jiwa kita. Jika kita bilang iya, saya mau, saya bertekad kuat, maka kamu bisa. Karena tidak ada manusia bodoh, hanya ada manusia malas dan penuh alasan.

Seandainya usia adalah faktor penghalang seorang penuntut ilmu, niscaya para sahabat tidak ada yang belajar. Bayangkan, berapa banyak para sahabat yang masuk islam setelah usia 30 dan 40 tahun. Tapi tidak menghalangi mereka untuk belajar.

 

KENAPA HARUS BELAJAR AL-QURAN?

Semua pasti akan menjawab “karena kita orang muslim, masa orang muslim ngga bisa baca al-Quran”, kurang lebih seperti itu celotehan sebagian besar murid kami.

Oke, deal. Tapi kenapa bisa seperti dibawah ini?

Apakah mereka non muslim? Muslim, kalau non muslim jangan ditanya. Itulah persoalan kita saat ini. Katanya muslim, kadang huruf arab “يَمِيْنٌ dan شمال” artinya “kanan dan kiri” yang ditulis sandal aja di katakana ayat al-Quran, dan dikatakan kafir yang menginjaknya. Itulah akibat ngga belajar baca al-Quran, apalagi belajar bahasa arab. Jangan-jangan nanti ada orang arab dilarang ngomong di sembarang tempat, karena melecehkan al-Quran. Hadeeuuh.

Sadaraar!

#MelekBacaAl-Quran

#MelekTajwid

Jika kita mengambil data yang tersebar di media elektronik saat ini, maka akan kita dapatkan prosentase masyarakat yang tidak mampu membaca al-Quran antara 50 – 70 persen.

Ok, kita akan ambil angka pertengahan, 60%. Yap, 60 persen dari total umat muslim Indonesia 190 juta tidak mampu membaca al-Quran. Artinya, ada sekitar 130 juta umat Islam Indonesia tidak mampu membaca al-Quran.

Sisanya, 40% mampu membaca al-Quran, dengan perkiraan total sekitar 70 juta orang.

Kemudian, dari 40% itu hanya 1% saja yang mampu membaca al-Quran dengan benar dan sesuai tajwid al-Quran. Artinya, hanya sekitar 700 ribu orang Islam saja yang mampu membaca al-Quran dengan benar di Negeri kita ini, Indonesia. Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Siapa lagi yang akan belajar dan membaca al-Quran kalau bukan kita umat islam? Orang-orang kafir? Ngga mungkin, adanya menghancurkan Islam.

Saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari salah satu pemirsa Insan TV,

“Ustadz, saya udah usia 40 tahun. Saya belum bisa baca al-Quran, saya malu ustadz. Saya ingin belajar ke guru quran, tapi malu sama teman-teman. Tapi saya sangat ingin bisa baca al-Quran”..

Saudaraku..

Apakah harus menunggu usia 40 tahun juga kita baru sadar dan kemudian sudah malu untuk belajar al-Quran dari dasar? Jangan sampai terulang pada kamu. Cukup beberapa data diatas sebagai pecutan buat kita agar lebih bersemangat lagi.

Al-Quran kitab orang muslim, siapa lagi yang mempelajarinya kalau bukan umat islam? Aib jika ada orang mengaku muslim, tapi tidak bisa baca al-Quran.

Ini sudah menjawab kenapa kita harus belajar al-Quran.

 

TIDAK ADA PERINTAH MENGHAFAL AL-QURAN.

Hampir tidak terdapat satu dalil pun yang memerintahkan secara langsung untuk menghafal al-Quran. But, jutaan orang dari zaman dahulu menghafal Quran, so why? Kok?.

Iya,

Pertama, karena al-Quran merupakan jaminan Allah. Allah langsung yang akan menjaganya,

Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr: 9)

Jadi, seandainya tidak ada seorang pun yang mau menghafal al-Quran, al-Quran tetap akan terjaga dengan jaminan Allah di atas.

 

TERUS KENAPA KITA MENGHAFAL AL-QURAN?

Kita menghafal al-Quran bukan untuk Allah, Allah tidak butuh kepada hafalan al-Quran kita, tapi kita menghafal al-Quran untuk kita sendiri, karena “Shohibul Quran akan mendapat syurga yang paling tinggi.”

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ ٱلْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى ٱلدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukansmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).[3]

 

Yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an.[4]

Karena di akhirat tidak ada lagi membaca al-Quran menggunakan mushaf, tapi menggunakan hafalan yang telah kita hafal selama di Dunia. Sebanyak apa bacaan kita nanti ya sebanyak yang kita pernah hafal di Dunia dan syurga kita pun di akhir bacaan hafalan kita tersebut. Wallahu ‘alam bisshowab.

\

HAFAL AL-QURAN 30 JUZ VS HAFAL 1 JUZ DENGAN TAJWID YANG BENAR.

Jika ada pilihan diatas, maka anda akan pilih yang mana?

So, dari 200 lebih peserta tahsin quran binaan kami menjawab “Hafal satu  juz dengan tajwid yang benar”. Iya, itu jawaban yang di inginkan memang. Karena membaca al-Quran dengan tajwid yang benar jauh lebih baik daripada hafal 30 juz tapi tajwidnya berantakan. Alih-alih ingin menjaga kemurnian al-Quran, tapi malah menghilangkan esensi cara baca al-Quran yang benar, sehingga berakibat pada hilangnya makna al-Quran yang sebenarnya.

Baik, coba bayangkan 1 ilustrasi dibawah yang kami dapatkan dari banyak peserta pemula tahsin al-Quran : Sebut saja namanya Fulan. Suatu ketika saya sengaja memintanya untuk membaca surat al-Fatihah. Mulailah ia membaca dari ta’awudz selanjutnya basmallah dan masuk awal surat,

ٱلهَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلآلَمِيْنَ

Baik, semua pasti tau dimana letak kesalahan diatas. Si Fulan membaca ٱلحَمْدُ   (segala puji) menjadi ٱلهَمْدُ (segala kebinasaan), dan ٱلعَالَمِيْنَ  (seluruh alam) menjadi ٱلآلَمِيْنَ (rasa sakit).

Bayangkan jika hampir seluruh ayat al-Quran jika dibaca seperti diatas. Kesalahan demi kesalahan yang tidak terbendung, kecuali ia mau berbenah dengan mempelajari ilmu tajwid.

 

HARUSKAH BERSANAD?

Yang wajib ‘ain (personal) adalah membaca al-Quran sesuai tajwid. Sedangkan mempelajari ilmu tajwid adalah wajib kifayah (cukup sebagian), jika sudah ada yang mempelajarinya maka sudah gugur kewajiban.

Namun, jika membaca al-Quran belum bisa sesuai tajwid, kecuali dengan mempelajari ilmu tajwid, maka yang tadinya hukumnya wajib kifayah menjadi wajib ‘ain. Kaidah fiqh mengatakan,

مَا لاَ يَتِمُّ ٱلوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perantara itu menjadi wajib.”

 

Contoh: Menutup aurat hukumnya wajib, namun tidak ada kain kecuali sutra. Bagi laki-laki haram hukumnya memakai kain dari sutra. Namun pada kondisi dan situasi seperti ini menjadi boleh, halal. Begitu pula dalam mempelajari ilmu Tajwid.

 

Nah, Haruskah bersanad?

Yang wajib adalah membaca al-Quran sesuai tajwid. Tidak akan berdosa jika tidak bersanad, tapi akan berdosa jika membaca al-Quran tidak sesuai ilmu tajwid.

Adapun sanad adalah pelengkap dan keutamaan, jika memungkinkan untuk mendapatkannya maka itu diutamakan, jika belum mampu tapi baca al-Qurannya sudah baik, maka tidak berdosa.

Bismillah, Kita mulai!

 

[1] Hampir semua benda yang diberi gangguan seperti dipukul, dipetik, diketuk, ditiup, dan lain-lain dapat menyebabkan benda-benda tersebut bergetar. Sebagai contoh, ketika kita memetik gitar, maka senar gitar tersebut akan bergetar, dan ketika kita meniup bagian atas botol, maka udara di dalamnya akan bergetar.

 

Benda-benda umumnya bergetar pada frekuensi-frekuensi tertentu. Frekuensi getaran benda tersebut dikenal dengan sebutan frekuensi alamiah benda. Semua benda memiliki frekuensi alamiah ketika bergetar.

 

Hal yang menarik berkaitan dengan frekuensi ini adalah ketika dua benda yang saling terhubung mempunyai frekuensi yang sama dan salah satu benda bergetar, maka getarannya akan memengaruhi benda yang kedua untuk bergetar. Peristiwa ini dalam kaca mata ilmu sains (fisika) dikenal dengan konsep resonansi.

 

Bercermin dari konsep resonansi, pada diri manusia sesungguhnya terus terjadi getaran-getaran yang amat lembut yang mungkin kita tidak sadari. Getaran-getaran di dalam diri ini tidak pernah berhenti, tetapi terus bergetar tiada henti-hentinya. Persoalannya adalah apakah frekuensi getaran yang dipancarkan itu berada pada energi tingkat tinggi (kasih sayang, empati, kejujuran, dan lain sebagainya) atau bergetar pada energi tingkat rendah (dengki, iri, marah, dan lain-lain).

 

Apabila berada pada getaran energi tingkat tinggi, maka getaran ini juga akan berdampak menggetarkan energi tingkat tinggi juga. Hal sebaliknya juga terjadi, apabila getaran energi di dalam ini adalah getaran energi tingkat rendah, maka energi ini juga akan menggetarkan energi tingkat rendah.

 

[2] Lihat: “Uluwul Himmah”, karya Muhammad bin Ahmad bin Isma’il Al Muqaddam, terbitan Dar Ibnul Jauzi, hal. 202-206.

[3] HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini shohih

[4] Lihat perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2440

Related posts